I.
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Setiap manusia dapat
memproduksi kata atau leksem untuk berkomunikasi satu sama lain. setiap kata
atau leksem yang diproduksi oleh manusia
lewat sebuah ujaran memiliki makna yang berbeda
beda. Walaupun berasal dari kata yang sama tetapi ada juga yang
mempunyai makna yang berbeda. Kata – kata atau leksem – leksem setiap bahasa
dapat dikelompokan dalam kelompok – kelompok tertentu yang maknanya saling
berkaitan atau berdekatan karena sama – sama berada dalam satu bidang keilmuan
atau bidang kegiatan (Chaer, 1989:110). Setiap kata yang berkaitan tersebut
memiliki komponen makna yang berbeda sehingga tampak perbedaan dan persamaan
kata tersebut dengan kata yang lain.
Bahasa terdiri dari dua
komponen utama yaitu komponen bentuk atau ekspresi dan komponen makna atau isi
(Keraf, 1991: 2-3). Bentuk bahasa dibagi atas dua bagian yaitu unsur – unsur
segmental bahasa yang mencakup wacana, kalimat , klausa, frasa, kata, morfem dan
fonem, serta unsur - unsur
suprasegmental bahasa yang terdiri atas intonasi dan unsur – unsur bawahannya
seperti tekanan, nada, durasi, dan perhentian. Makna adalah isi yang terkandung
di dalam bentuk – bentuk tersebut. Ruang lingkup makna mencangkup hubungan
antara ujaran – tulisan maupun lisan pada umumnya. Makna merupakan atribut
bukan saja dari bahasa melainkan pula dari segenap sistem tanda dan lambang,
dan kajian makna dinamakan semantic (Robins, 1992:24).
Medan makna adalah
salah satu kajian utama dalam semantik. Medan makna merupakan bagian dari
sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau
realitas dalam alam semesta tertentu yang direalisasikan oleh seperangkat unsur
leksikal yang maknanya berhubungan. Di dalam medan makna, suatu kata terbentuk
oleh relasi makna kata tersebut dengan kata lain yang terdapat dalam medan
makna itu. Sebuah medan makna, menurut Trier (1934), dapat diibaratkan sebagai
mosaik. Jika makna satu kata bergeser, makna kata lain dalam medan makna
tersebut juga akan berubah (Trier, dalam Lehrer, 1974:16). Harimurti menyatakan
bahwa medan makna (semantic field,
semantic domain) adalah bagian dari system semantic bahasa yang
menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta
tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya
berhubungan (Chaer, 1989:110). Unsur leksikal yang maknanya berhubungan dengan
yang lain memiliki jumlah yang tidak sama pada setiap bahasa karena makna
tersebut berkaitan dengan unsur sosial budaya pada setiap bahasa. Misalnya nama
– nama warna dalam bahasa Indonesia berbeda dengan nama warna yang dimiliki
oleh bahasa inggris. Nama – nama warna dalam bahasa Indonesia adalah coklat,
merah, putih dsb. Jika membedakan nuansa warna menggunakan keterangan
dibelakang nama warna misalnya, merah hati, merah darah, merah muda dsb.
Sedangkan dalam bahasa inggris hanya mengenal sebelas nama warna dasar misal blue, red, orange, yellow, grey, black,
purple, green dsb.
Berdasarkan penelitian terdahulu,
penelitian medan makna pernah dilakukan oleh Shoumi (2005) menganalisis
mengenai medan makna kata memanaskan dalam bahasa perancis. Ia menyimpulkan
bahwa ada empat cara memasak dengan cara memanaskan yaitu griller, rtir, frire, dan faire
sauter. Perbedaan seperti ini menimbulkan masalah dalam memilih leksem aktivitas memasak yang tepat bagi pengguna bahasa Perancis.
Medan makna merupakan
kelompok kata yang saling terjalin maknanya. Pada penelitian ini akan dibahas
mengenai medan makna pada ranah kata emosi dalam bahasa Indonesia. Emosi
merupakan sifat yang dimiliki oleh manusia, kadang kala masyarakat menngunakan
kata yang kurang tepat dalam mengungkapkan perasaan atau emosi mereka, maka
untuk mengungkapkan kata emosi diperlukan kata – kata yang melingkupinya atau
medan makna agar kata tersebut dapat digunakan sesuai dengan penggunaan saat situasi
atau perasaan itu terjadi sehingga mengurangi tingkat kesalahan atau keambiguan
pada kalimat atau ujaran yang diproduksi oleh seorang individu. Kata emosi
memiliki beberapa medan makna yang melingkupinya misalnya kata marah, sedih ,
senang dsb. Kata tersebut memiliki tingkat hierarki – hierarki kata dimana
hierarki kata berkaitan dengan budaya pada bahasa yang bersangkutan. Pada makalah
ini akan dibahas mengenai medan makna pada ranah kata emosi dalam bahasa
Indonesia, dimana kata emosi akan dii analisis menggunakan medan makna sehingga
di dapat hasil jangkauan makna yang dimiliki oleh kata emosi dalam bahasa
Indonesia serta tingkat hierarki kata yang melingkupi kata emosi dalam bahasa
Indonesia.
b.
Rumusan
Masalah
-
Kata apasajakah yang menjadi anggota
kata yang terbentuk dari jangkauan makna pada kata emosi dalam bahasa
Indonesia?
-
Komponen makna apa sajakah yang dimiliki
oleh kata – kata tersebut?
c.
Tujuan
-
Untuk mengetahui keanggotaan kata yang
terbentuk dari medan makna kata emosi dalam bahasa Indonesia
-
Untuk memperkecil atau mengurangi
tingkat keambiguan sebuah kalimat yang dibentuk untuk mengugkapkan perasaan
emosi.
d.
Metode
Penelitian
Metode sangat penting
bukan hanya dalam peneltian bahsa tetapi juga bagi ilmu empiris (Sudaryanto,
1992:1). Demi tercapainya keberhasilan penelitian ini diterapkan metode
penelitian linguistic. Menurut Sudaryanto (1992:57) setiap prosedur penelitian
linguistic melewati tiga tahapan strategis yaitu tahap pengumpulan data tahap
pengolahan atau penaganalisisan data, dan tahap pemaparan hasil analisis. Dalam
penelitian ini terlebih dahulu diuraikan data dan sumber data, metode dan
teknik penyediaan data, merode teknik dan analisis data, dan penyajian analisis
data.
-
Data
Dan Sumber Data
Objek penelitian
dalam tulisan ini adalah medan makna dalam ranah kata emosi pada bahasa
Indonesia. Data dalam penelitian ini adalah leksem yang berciri adjektiva pada
ranag medan makna emosi dalam bahasa Indonesia. Sumber data dalam penelitian
ini meliputi beberapa ensiklopedia bahasa Indonesia oleh Tim Penyusun Balai
Bahasa Yogyakarta. Kamus dijadikan sebagai sumber data primer dengan hal – hal
yang mendasarinya antara lain (a) data penelitian ini berhubungan erat dengan
leksikon, (b) kamus memuat atau menyimpan pengetahuan leksikon dari seluruh
penutur bahasa (Basiroh, 1992:11), (c) penyusunan kamus melibatkan sejumlah
penutur sebagai informan dari berbagai
latar belakang geografis, sosial budaya, dan bahasa – bahasa yang berbeda, (d)
penyusunan kamus memanfaatkan sejumlah teks dalam berbagai bidang kehidupan
yang ditulis oleh penulis dari berbagai latar belakang geografis (Wedhawati,
1997:89), (e) kamus menyajikan arti atau makna (Zyusta, 1971:197), dan (f) pada
umumnya kamus juga menyajikan konteks pemaaian leksem (Wedhawati, 1997:89).
-
Metode
dan Teknik Analisis Data
Dalam penelitian
ini metode yang digunakan adalah metode agih dengan teknik ganti dan teknik
perluas. Teknik ganti dilaksanakan dengan mengganti unsur tertentu yang lain di
luuar satuan lingual yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:37). Kegunaan teknik
ganti adalah untuk mengetahui kadar kesamaan kelas kata atau kategori unsur
terganti atau unsur ginanti dengan unsur pengganti, khususnya bila tataran
pengganti sama dengan tataran terganti atau unsur ginanti. Bila dapat
digantikan (atau saling menngantikan) berarti kedua unsur itu di dlam kelas
atau kategori yang sama. Dalam hal itu pengertian kelas atau kategori dalam
meliputi juga superkelas (kelas atasan, superkategori) atau subkelas (kelas
bawahan, subkategori). Makin banyak kemungkinan pengganti unsur yang sama dalam
berbagai satuan lingual, semakin tinggi kadar kesamaanya dan itu berarti makin
membentuk kemungkinan bahwa unsur yang saling dapat menggantikan itu dalam
kelas, bahkan super kelas yang sama (Sudaryanto, 1993:48-49).
Teknik perluas dilaksanakan
dengan memperluas satuan lingual yang bersangkutan ke kanan atau ke kiri, dan
perluasan itu menggunakan unsur tertentu (Sudaryanto, 1993:37). Lebih lanjut
Sudaryanti (1993:53:54) menjelaskan bahwa kegunaan teknik perluas itu adalah
untuk menentukan segi – segi kemaknaan (aspek semantic) dalam satuan lingual
tertentu. Teknik perluas digunakan untuk mengetahui verba – verba yang
bersinonim. Teknik ini menggunakan dua tuturan dengan unsur perluas yang sama
misalnya mengetahui perbedaan makna antara senang
dan gembira.
II.
PEMBAHASAN
a.
Landasan
Teori
Segala sesuatu memiliki
pasti memiliki lambang. Oleh karena itu, setiap lambang memiliki makna, setiap
lambang memiliki hubungan makna dengan makna lain. dalam hubungannya dengan
medan makna Nida (1974:174) mengatakan ‘a
semantic domain consist essentially of a group of meaning (by no means restricted
to those reflected in single words) which share certain semantic components.’
Jadi, setiap kata memiliki makna yang tercakup dalam medan makna. Fitur – fitur
medan makna dalap dilihat dari segi; (i) bentuk atau ukuran; (ii) tingkat –
tingkat dalam hierarki; (iii) keanggotaan kata, (iv) kebermacaman kata dan (v)
lingkungan kata yang semuanya dapat dikelompokan menjadi; (i) entitas atau
objek; (ii) kegiatan; (iii) abstraksi termasuk disitu kualitas dan (iv)
penghubung (Chaer: 1989: 256).
Analisis komponensial
diilhami oleh analisis ciri pembeda bunyi – bunyi bahasa dalam fonologi. Oleh
karena itu, penerapan metode analisis komponen ini di dalam semantic pada
dasarnya merupakan bentuk perluasan dari bidang fonologi ke bidang semantic
dalam hal metode analisisnya (Subroto, 1992:36;Wijana, 1999:42). Metode ini berkembang
pada awal tahun 1960-an di Eropa dan Amerika dan pada walnya digunakan di dalam
antropologi oleh Goodenough sebagai suatu teknik untuk menguraikan komponen
makna kosakata dalam bidang kekerabatan (Gordon, 1980:174-175). Selanjutnya
analisis ini juga terbukti bermanfaat dalam bidang – bidang linguistic
khususnya bidang semantic.
Dalam analisis
komponensial, terdapat tiga tipe komponen makna yang penting yaitu: (1)
komponen bersama (coomon component), (2) komponen diagnostic (diagnostic
component), dan (3) komponen suplemen (supplement component) (Nida,
1975:32-39). Sedangkan Beekman dan Callow (1974:75-77) menyatakan bahwa
komponen makna terdiri dari tiga tipe pula yaitu (1) komponen umum (generic
component), (2) komponen khusus (specific, constrastive, distinctive
component), dan (3) komponen incidental (incidental, supplementary component).
Komponen umum atau generic adalah komponen makna yang dimiliki oleh semua
anggota perangkat makna (semantic set). Adapun komponen incidental adalah
komponen yang tidak termasuk komponen generic atau komponen spesifik. Dalam
perangkat makna yang luas, kmponen incidental tidak menentukan atau membedakan
makna anggota perangkat makna.
Komponen – komponen
makna yang hadir sebagai akibat hasil analisis tiap – tiap leksem di dalam
sebiah medan makna ternyata menghasilkan berbagai hubungan hierakis. Sebuah
hierarki adalah seperangkat elemen ang saling berhubungan satu sama lain dalam
suatu cara yang khusus (Cruse, 1986:112). Lebih lanjut Cruse menjelaskan bahwa
ada dua jenis structural hierarki yaitu yang bisa bercabang dan yang tidak bisa
bercabang. Hierarki yang tidak bisa bercanag disebabkan karena hubungan
konstitutive alaminya. Dua kemungkinan tersebut digambarkan sebagai
berikut.
![]() |
|||
![]() |
|||
b.
Analisis
Setiap bahasa memiliki
tingkat keterhubungan medan makna yang tercermin pada setiap lambang yang
digunakan. Seperti pada kata emosi yang memiliki 7 medan makna yaitu senang,
sedih, marah, bosan, benci, takut, dan malu. Kata – kata tersebut menjadi anggota
kata dari kata emosi yang memiliki makna yang berbeda. Kata emosi masih
memiliki hubungan kata dengan kata - kata tersebut. Oleh karena itu, kata emosi
menjadi kata umum yang dapat dihubungkan dengan bentuk bentuk emosi atau luapan
perasaan yaitu senang, sedih, marah, bosan, benci, takut dan malu. Maka, dapat
dikatakan bahwa kata – kata tersebut memiliki jarring – jaring atau medan makna
yang sama. Medan makna tersebut dapa dilihat dari lambang – lambang yang
digunakan. Dengan demikian, kata emosi memilik keanggotaan lambang yang banyak
untuk medan makna tertentu.
![]() |
|||||||||||
|
|
![]() |
|||||||||
|
|
||||||||||
Diagram diatas menunjukan bahwa
terdapat relasi semantic horizontal.
Dari kata emosi dapat
dibagi menjadi tujuh medan makna yaitu senang, sedih, marah, bosan, benci, takut,
dan malu. Akan tetapi dari beberapa medan makna yang terbentuk dari kata emosi,
ada dua kata yang tidak memiliki kelompok medan makna yaitu kata berani dan
penasaran. Kata tersebut juga golong dalam ranah emosi. Pada bahasan ini, kata
– kata yang dihasilkan dari ranah emosi atau perasaan jiwa seseorang tergolong
dalam kelompok kata ajekiva. Deskripsi
medan makna dapat saja berupa keberadaan medan makna itu sendiri, baik medan
makna yang berdiri secara terpisah dari medan makna yang lain seperti kata berani
dan penasaran maupun medan makna yang terikat dalam hubunganya dengan jaringan
medan makna yang lebih luas, seperti kata senang, sedih, marah, bosan, benci,
takut, dan malu.
Jaringan keterkaitan
makna satu dengan yang lainnya dapat menghasilkan superordinate dan hiponim. Seperti
pada beberapa medan makna yang ada pada ranah kata emosi yang ditunjukan dnegan
table dibawah ini ;
Tabel
1. Jaring - Jaring Makna
|
No
|
Komponen
umum
|
Jaring
– jaring makna
|
|
1.
|
Senang
|
Asyik
|
|
|
|
Bahagia
|
|
|
|
Bangga
|
|
|
|
Berahi
|
|
|
|
Cinta
|
|
|
|
Gembira
|
|
|
|
Gemas
|
|
|
|
Kagum
|
|
|
|
Lega
|
|
|
|
Nikmat
|
|
|
|
Puas
|
|
|
|
Plong
|
|
|
|
Rida
|
|
|
|
Sayang
|
|
|
|
Senang
|
|
|
|
Suka
|
|
|
|
Takjub
|
|
|
|
Tenang
|
|
2.
|
Marah
|
Berang
|
|
|
|
Geram
|
|
|
|
Kesal
|
|
|
|
Kalap
|
|
|
|
Kecewa
|
|
|
|
Muak
|
|
|
|
Panic
|
|
|
|
Sebel
|
|
3.
|
Bosan
|
Bosan
|
|
|
|
Galau
|
|
|
|
Gamang
|
|
|
|
Jemu
|
|
|
|
Jenuh
|
|
4.
|
Sedih
|
Cemas
|
|
|
|
Benci
|
|
|
|
Gundah
|
|
|
|
Iba
|
|
|
|
Kalut
|
|
|
|
Kangen
|
|
|
|
Merana
|
|
|
|
Pilu
|
|
|
|
Prihatin
|
|
|
|
Terenyuh
|
|
5.
|
Benci
|
Cemburu
|
|
|
|
Curiga
|
|
|
|
Benci
|
|
|
|
Sentiment
|
|
|
|
Dengki
|
|
|
|
Dongkol
|
|
|
|
Sirik
|
|
6.
|
Takut
|
Bimbang
|
|
|
|
Gentar
|
|
|
|
Gelisah
|
|
|
|
Khawatir
|
|
|
|
Was
- was
|
|
|
|
Risau
|
|
|
|
Grogi
|
|
|
|
Ngeri
|
|
|
|
Panic
|
|
|
|
Segan
|
|
|
|
Tegang
|
|
7.
|
Malu
|
Gondok
|
|
|
|
Sungkan
|
Dari table 1.1.
di dapatkan bahwa komponen umum kata senang memiliki 18 jaring – jaring makna
yang terdiri dari kata bahagia, asik, bangga, berahi, cinta, gembira, gemas,
kagum, lega, nikmat, puas, plong, rida, sayang, senang, suka, takjub, tenang. Pada
table 1.2. komponen umum dari kata marah memiliki 8 jaring – jaring makna yaitu
berang, geram, kesal, kalap, kecewa, muak, panic, sebel. Sedangkan pada table
1.3. Dari kompoen umum kata bosa di
dapat 4 jaring –jaring makna yaitu kata galau, gamang, jemu dan jenuh. Pada
table 1.4. di dapat bahwa kata umum sedih memiliki 10 jaring – jaring makna
yaitu kata cemas, benci, gundah, iba, kalut, kangen, merana, pilu, prihatin,
terenyuh. Pada table 1.5 di dapat komponen kata benci yang terdiri dari 7
jaring - jaring makna yaitu cemburu, curiga, benci, sentiment, dongkol, sirik,
dengki.
Dari table 1.6
komponen umum pada kata takut memiliki 11 jaring – jaraing makna, yaitu
bimbang, gentar, gelisah, khawatir, was – was, risau, grogi, ngeri, panic,
segan, dan tegang. Sedangkan pada table 1.7 komponen umum dari kata malu hanya
memiliki 2 jaring – jaring makna yaitu gundah dan sungkan. Kata – kata yang
telah dihasilkan oleh jaring – jaring makna dapat dikembalikan lagi ke kata
umum yaitu emosi. Oleh karena itu kata – kata tersebut memiliki medan makna
yang sama. Hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwa semua yang dapat dirasakan
oleh indera manusia dapat dikelompokan menjadi jaring - jaring makan atau medan
makna tertentu. Medan makna dapat tercermin dalam kata atau lambang yang
digunakan. Dengan demikian, ada bahasa yang memiliki keanggotaan lambang yang
banyak untuk medan makna tertentu (Suwaji, dkk 1975, Pateda 2001: 256)
Table 2. Komponen Makna
|
No
|
Ciri
|
Senang
|
Sedih
|
Marah
|
Bosan
|
Benci
|
Takut
|
Malu
|
|
1.
|
Perasaan
batin yang keras
|
+
|
+
|
+
|
+
|
+
|
+
|
+
|
|
2.
|
Merasa
suka
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
3.
|
Merasa
tidak suka
|
-
|
-
|
-
|
+
|
+
|
-
|
-
|
|
4.
|
Susah
hati
|
-
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
5.
|
Merasa
senang
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
6.
|
Merasa
tidak senang
|
-
|
-
|
+
|
-
|
-
|
-
|
+
|
|
7.
|
Dalam
keadaan baik
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
8.
|
Merasa
gusar
|
-
|
-
|
+
|
+
|
-
|
+
|
-
|
|
9.
|
Jemu
|
-
|
-
|
-
|
+
|
-
|
-
|
-
|
|
10.
|
Merasa
tidak berani
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
+
|
-
|
Pada table
diatas menunjukan bahwa beberapa medan makna yang telingkup pada kata emosi
memiliki beberapa komponen makna yang dapat dibedakan dengan ciri – ciri
tertentu seperti perasaan batin yang keras, merasa suka atau tidak suka, merasa
senang atau tidak senang, susah hati, dalam keadaan yang baik, merasa gusar,
jemu dan merasa tidak berani. Beberapa ciri tersebut dapat mewakili komponen
makna pada tiap – tiap medan makna dari kata umum emosi.
Pada ciri – ciri
komponen makna diatas ciri yang mengemukakan perasaan batin yang keras dapat
mewakili seluruh medan makna pada kata emosi yaitu sedih, senang, takut, bosan,
marah, malu, dan benci. Berdasarkan data diatas kata senang memiliki komponen
makna yaitu dalam perasaan suka, merasa senang dan dalam keadaan baik. Komponen
makna yang membangun kata sedih adalah perasaan batin yang keras dan susah
hati. Sedangkan komponen makna pada kata marah yaitu perasaan tidak senang dan
merasa gusar. Pada komponen makna yang melingkupi kata bosan yaitu terdiri dari
perasaan tidak suka, jemu dan merasa tidak suka. Komponen makna yang membangun
kata benci yaitu merasa tidak suka, sedangkan kompone makna pada kata takut
yaitu merasa gusar dan merasa tidak berani. Hal ini berbeda dengan komponen
kata yang ada pada kata malu yaitu merasa tidak berani. Dari analisis komponen
makna tersebut didapat bahwa setiap kata dalam medan makna memiliki komponen
makna yang hampir sama, tetapi dapat dibedakan dengan komponen diagnostik yang
terdapat pada kata tersebut.
III.
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas
didapat bahwa ada 62 kata yang membentuk kata emosi. Hal ini dapat dianalisis
melalui analisis konteks verbal, aspek semantis dan dimensi semantis. Ke- 62
kata itu adalah (asyik, antusias, bahagia, bangga, benci, berahi, berang,
bimbang, bosan, cemas, cinta, curiga, cemburu, dengki, dongkol, galau, gamang,
gelisah, gembira,gemas, gentar, geram, girang, gondok, grogi, gundah, geram,
heran, iba,iklas, iri, jemu, jengkel, jenuh, kaget, kagum, kalap, kalut,
kangen, kecewa, keki, kesal, khawatir, lega,malu, marah,masgul,
merana, muak, ngebet, ngeri, nikmat, panik, pilu, plong, prihatin, puas,
ragu,resah, rida, rindu, risau, risi, sangsi, sayang, sebel, sedih, segan,
senang, sentiment, sirik, suka, sungkan, takjub, takut, tegang,tenang,
terenyuh, was-was).
Dari kata emosi
tersebut, terbentuk 7 medan makna kata emosi, yaitu medan makna senang, sedih,
marah, bosan, benci, takut dan malu. Melalui analisis komponen makna terlihat
bahwa setiap kata dalam medan makna memiliki komponen makna yang hampir sama,
tetapi dapat dibedakan dengan komponen diagnostik yang terdapat pada kata tersebut.
IV.
DAFTAR
PUSTAKA
Beekman, John. And John Callow.
1974 Translating The Words of God.
Michigan:
Zondervan Publising
House, Third Printing, 1976
Chaer,
Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa
Indonesia. Jakarta: Rieneka Cipta
Cruse,
D. A. 1986. Lexical Semantics. Cambridge
and New York: Cambridge
University Press.
Crystal,
David.1985. A Dictionary of Linguistics
and Phonetics. New York: Basil
Blackwell Ltd
Leech,
Geoffrey. 1974. Semantics: The Study of
Meaning. Harmondsworth,
Middlesex: Penguin Books Ltd.
Second Edition, revised dan updated 1981.
Lyons, John. 1977. Semantics I. Cambridge: Cambridge
University Press. Third
Printing 1981
Nida, Eugene A. 1975. Componential Analysis of Meaning: an
Introduction to
Semantic
Structure. Paris: Mounton
Pateda,
Mansoer. 1986. Semantik Leksikal. Ende: Nusa Indah
Robin,
R.H. 1992. Linguistik Umum Sebuah
Pengantar (penerjemah: Soenarjati
Djajanegara),
Yogyakarta:
Kanisius
Sudaryanto.
1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis
Bahasa, Yogyakarta: Duta
Wacana Unversity Press
Verhaar,
J.W.M. 1999, Asas – asas Linguistik Umum,
Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Wedhawati.
1997 “Konfigurasi Medan Leksikal (+SUARA +INSAN) dalam Bahasa
Indonesia. Disertasi”.
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Wijana,
I Dewa Putu. 1999. Semantik Sebagai Dasar
Fundamental Pengkajian
Bahasa,
Makalah dalam Seminar Nasional Semantik I. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Zgusta,
Ladislav et al. 1971. Manual of
Lexicography. The Hague: Mounton




Salam hormat,
BalasHapusperkenalkan saya Widya Nurul Rahma mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia. Perihal penelitian analisis medan makna pada ranah emosi yang Ibu lakukan, saya membutuhkan soft file penelitian tersebut dijadikan untuk referensi skripsi yang sedang saya kerjakan. Mohon Ibu berkenan untuk mengirimkan soft file lengkapnya melalui pos-el saya (widyaya01@gmail.com)karenA dalam blog ini ada beberapa format penulisan yang tidak muncul. Terima kasih.
Salam hormat,
BalasHapusperkenalkan saya Widya Nurul Rahma mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia. Perihal penelitian analisis medan makna pada ranah emosi yang Ibu lakukan, saya membutuhkan soft file penelitian tersebut Salam hormat,
perkenalkan saya Widya Nurul Rahma mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia. Perihal penelitian analisis medan makna pada ranah emosi yang Ibu lakukan, saya membutuhkan soft file penelitian tersebut dijadikan untuk referensi skripsi yang sedang saya kerjakan. Mohon Ibu berkenan untuk mengirimkan soft file lengkapnya melalui pos-el saya (widyaya01@gmail.com)karenA dalam blog ini ada beberapa format penulisan yang tidak muncul. Terima kasih untukdijadikan referensi skripsi yang sedang saya kerjakan. Mohon Ibu berkenan untuk mengirimkan soft file lengkapnya melalui pos-el saya (widyaya01@gmail.com) karena dalam blog ini ada beberapa format penulisan yang tidak muncul. Terima kasih
Datanya dari mana ya? Mirip sama analisis di tesis saya.
BalasHapus