Rabu, 17 Juli 2013

ANALISIS MEDAN MAKNA PADA RANAH EMOSI DALAM BAHASA INDONESIA


I.                   PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang
Setiap manusia dapat memproduksi kata atau leksem untuk berkomunikasi satu sama lain. setiap kata atau leksem yang  diproduksi oleh manusia lewat sebuah ujaran memiliki makna yang berbeda  beda. Walaupun berasal dari kata yang sama tetapi ada juga yang mempunyai makna yang berbeda. Kata – kata atau leksem – leksem setiap bahasa dapat dikelompokan dalam kelompok – kelompok tertentu yang maknanya saling berkaitan atau berdekatan karena sama – sama berada dalam satu bidang keilmuan atau bidang kegiatan (Chaer, 1989:110). Setiap kata yang berkaitan tersebut memiliki komponen makna yang berbeda sehingga tampak perbedaan dan persamaan kata tersebut dengan kata yang lain.
Bahasa terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen bentuk atau ekspresi dan komponen makna atau isi (Keraf, 1991: 2-3). Bentuk bahasa dibagi atas dua bagian yaitu unsur – unsur segmental bahasa yang mencakup wacana, kalimat , klausa, frasa, kata, morfem dan fonem, serta unsur  - unsur suprasegmental bahasa yang terdiri atas intonasi dan unsur – unsur bawahannya seperti tekanan, nada, durasi, dan perhentian. Makna adalah isi yang terkandung di dalam bentuk – bentuk tersebut. Ruang lingkup makna mencangkup hubungan antara ujaran – tulisan maupun lisan pada umumnya. Makna merupakan atribut bukan saja dari bahasa melainkan pula dari segenap sistem tanda dan lambang, dan kajian makna dinamakan semantic (Robins, 1992:24).
Medan makna adalah salah satu kajian utama dalam semantik. Medan makna merupakan bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Di dalam medan makna, suatu kata terbentuk oleh relasi makna kata tersebut dengan kata lain yang terdapat dalam medan makna itu. Sebuah medan makna, menurut Trier (1934), dapat diibaratkan sebagai mosaik. Jika makna satu kata bergeser, makna kata lain dalam medan makna tersebut juga akan berubah (Trier, dalam Lehrer, 1974:16). Harimurti menyatakan bahwa medan makna (semantic field, semantic domain) adalah bagian dari system semantic bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan (Chaer, 1989:110). Unsur leksikal yang maknanya berhubungan dengan yang lain memiliki jumlah yang tidak sama pada setiap bahasa karena makna tersebut berkaitan dengan unsur sosial budaya pada setiap bahasa. Misalnya nama – nama warna dalam bahasa Indonesia berbeda dengan nama warna yang dimiliki oleh bahasa inggris. Nama – nama warna dalam bahasa Indonesia adalah coklat, merah, putih dsb. Jika membedakan nuansa warna menggunakan keterangan dibelakang nama warna misalnya, merah hati, merah darah, merah muda dsb. Sedangkan dalam bahasa inggris hanya mengenal sebelas nama warna dasar misal blue, red, orange, yellow, grey, black, purple, green dsb.
Berdasarkan penelitian terdahulu, penelitian medan makna pernah dilakukan oleh Shoumi (2005) menganalisis mengenai medan makna kata memanaskan dalam bahasa perancis. Ia menyimpulkan bahwa ada empat cara memasak dengan cara memanaskan yaitu griller, rtir, frire, dan faire sauter. Perbedaan seperti ini menimbulkan masalah dalam memilih leksem  aktivitas memasak yang tepat  bagi pengguna bahasa Perancis.
Medan makna merupakan kelompok kata yang saling terjalin maknanya. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai medan makna pada ranah kata emosi dalam bahasa Indonesia. Emosi merupakan sifat yang dimiliki oleh manusia, kadang kala masyarakat menngunakan kata yang kurang tepat dalam mengungkapkan perasaan atau emosi mereka, maka untuk mengungkapkan kata emosi diperlukan kata – kata yang melingkupinya atau medan makna agar kata tersebut dapat digunakan sesuai dengan penggunaan saat situasi atau perasaan itu terjadi sehingga mengurangi tingkat kesalahan atau keambiguan pada kalimat atau ujaran yang diproduksi oleh seorang individu. Kata emosi memiliki beberapa medan makna yang melingkupinya misalnya kata marah, sedih , senang dsb. Kata tersebut memiliki tingkat hierarki – hierarki kata dimana hierarki kata berkaitan dengan budaya pada bahasa yang bersangkutan. Pada makalah ini akan dibahas mengenai medan makna pada ranah kata emosi dalam bahasa Indonesia, dimana kata emosi akan dii analisis menggunakan medan makna sehingga di dapat hasil jangkauan makna yang dimiliki oleh kata emosi dalam bahasa Indonesia serta tingkat hierarki kata yang melingkupi kata emosi dalam bahasa Indonesia.
b.      Rumusan Masalah
-          Kata apasajakah yang menjadi anggota kata yang terbentuk dari jangkauan makna pada kata emosi dalam bahasa Indonesia?
-          Komponen makna apa sajakah yang dimiliki oleh kata – kata tersebut?
c.       Tujuan
-          Untuk mengetahui keanggotaan kata yang terbentuk dari medan makna kata emosi dalam bahasa Indonesia
-          Untuk memperkecil atau mengurangi tingkat keambiguan sebuah kalimat yang dibentuk untuk mengugkapkan perasaan emosi.
d.      Metode Penelitian
Metode sangat penting bukan hanya dalam peneltian bahsa tetapi juga bagi ilmu empiris (Sudaryanto, 1992:1). Demi tercapainya keberhasilan penelitian ini diterapkan metode penelitian linguistic. Menurut Sudaryanto (1992:57) setiap prosedur penelitian linguistic melewati tiga tahapan strategis yaitu tahap pengumpulan data tahap pengolahan atau penaganalisisan data, dan tahap pemaparan hasil analisis. Dalam penelitian ini terlebih dahulu diuraikan data dan sumber data, metode dan teknik penyediaan data, merode teknik dan analisis data, dan penyajian analisis data.
-          Data Dan Sumber Data
Objek penelitian dalam tulisan ini adalah medan makna dalam ranah kata emosi pada bahasa Indonesia. Data dalam penelitian ini adalah leksem yang berciri adjektiva pada ranag medan makna emosi dalam bahasa Indonesia. Sumber data dalam penelitian ini meliputi beberapa ensiklopedia bahasa Indonesia oleh Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta. Kamus dijadikan sebagai sumber data primer dengan hal – hal yang mendasarinya antara lain (a) data penelitian ini berhubungan erat dengan leksikon, (b) kamus memuat atau menyimpan pengetahuan leksikon dari seluruh penutur bahasa (Basiroh, 1992:11), (c) penyusunan kamus melibatkan sejumlah penutur sebagai informan  dari berbagai latar belakang geografis, sosial budaya, dan bahasa – bahasa yang berbeda, (d) penyusunan kamus memanfaatkan sejumlah teks dalam berbagai bidang kehidupan yang ditulis oleh penulis dari berbagai latar belakang geografis (Wedhawati, 1997:89), (e) kamus menyajikan arti atau makna (Zyusta, 1971:197), dan (f) pada umumnya kamus juga menyajikan konteks pemaaian leksem (Wedhawati, 1997:89).
-          Metode dan Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode agih dengan teknik ganti dan teknik perluas. Teknik ganti dilaksanakan dengan mengganti unsur tertentu yang lain di luuar satuan lingual yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:37). Kegunaan teknik ganti adalah untuk mengetahui kadar kesamaan kelas kata atau kategori unsur terganti atau unsur ginanti dengan unsur pengganti, khususnya bila tataran pengganti sama dengan tataran terganti atau unsur ginanti. Bila dapat digantikan (atau saling menngantikan) berarti kedua unsur itu di dlam kelas atau kategori yang sama. Dalam hal itu pengertian kelas atau kategori dalam meliputi juga superkelas (kelas atasan, superkategori) atau subkelas (kelas bawahan, subkategori). Makin banyak kemungkinan pengganti unsur yang sama dalam berbagai satuan lingual, semakin tinggi kadar kesamaanya dan itu berarti makin membentuk kemungkinan bahwa unsur yang saling dapat menggantikan itu dalam kelas, bahkan super kelas yang sama (Sudaryanto, 1993:48-49).
Teknik perluas dilaksanakan dengan memperluas satuan lingual yang bersangkutan ke kanan atau ke kiri, dan perluasan itu menggunakan unsur tertentu (Sudaryanto, 1993:37). Lebih lanjut Sudaryanti (1993:53:54) menjelaskan bahwa kegunaan teknik perluas itu adalah untuk menentukan segi – segi kemaknaan (aspek semantic) dalam satuan lingual tertentu. Teknik perluas digunakan untuk mengetahui verba – verba yang bersinonim. Teknik ini menggunakan dua tuturan dengan unsur perluas yang sama misalnya mengetahui perbedaan makna antara senang dan gembira.

II.                PEMBAHASAN
a.      Landasan Teori
Segala sesuatu memiliki pasti memiliki lambang. Oleh karena itu, setiap lambang memiliki makna, setiap lambang memiliki hubungan makna dengan makna lain. dalam hubungannya dengan medan makna Nida (1974:174) mengatakan ‘a semantic domain consist essentially of a group of meaning (by no means restricted to those reflected in single words) which share certain semantic components.’ Jadi, setiap kata memiliki makna yang tercakup dalam medan makna. Fitur – fitur medan makna dalap dilihat dari segi; (i) bentuk atau ukuran; (ii) tingkat – tingkat dalam hierarki; (iii) keanggotaan kata, (iv) kebermacaman kata dan (v) lingkungan kata yang semuanya dapat dikelompokan menjadi; (i) entitas atau objek; (ii) kegiatan; (iii) abstraksi termasuk disitu kualitas dan (iv) penghubung (Chaer: 1989: 256).
Analisis komponensial diilhami oleh analisis ciri pembeda bunyi – bunyi bahasa dalam fonologi. Oleh karena itu, penerapan metode analisis komponen ini di dalam semantic pada dasarnya merupakan bentuk perluasan dari bidang fonologi ke bidang semantic dalam hal metode analisisnya (Subroto, 1992:36;Wijana, 1999:42). Metode ini berkembang pada awal tahun 1960-an di Eropa dan Amerika dan pada walnya digunakan di dalam antropologi oleh Goodenough sebagai suatu teknik untuk menguraikan komponen makna kosakata dalam bidang kekerabatan (Gordon, 1980:174-175). Selanjutnya analisis ini juga terbukti bermanfaat dalam bidang – bidang linguistic khususnya bidang semantic.
Dalam analisis komponensial, terdapat tiga tipe komponen makna yang penting yaitu: (1) komponen bersama (coomon component), (2) komponen diagnostic (diagnostic component), dan (3) komponen suplemen (supplement component) (Nida, 1975:32-39). Sedangkan Beekman dan Callow (1974:75-77) menyatakan bahwa komponen makna terdiri dari tiga tipe pula yaitu (1) komponen umum (generic component), (2) komponen khusus (specific, constrastive, distinctive component), dan (3) komponen incidental (incidental, supplementary component). Komponen umum atau generic adalah komponen makna yang dimiliki oleh semua anggota perangkat makna (semantic set). Adapun komponen incidental adalah komponen yang tidak termasuk komponen generic atau komponen spesifik. Dalam perangkat makna yang luas, kmponen incidental tidak menentukan atau membedakan makna anggota perangkat makna.
Komponen – komponen makna yang hadir sebagai akibat hasil analisis tiap – tiap leksem di dalam sebiah medan makna ternyata menghasilkan berbagai hubungan hierakis. Sebuah hierarki adalah seperangkat elemen ang saling berhubungan satu sama lain dalam suatu cara yang khusus (Cruse, 1986:112). Lebih lanjut Cruse menjelaskan bahwa ada dua jenis structural hierarki yaitu yang bisa bercabang dan yang tidak bisa bercabang. Hierarki yang tidak bisa bercanag disebabkan karena hubungan konstitutive alaminya. Dua kemungkinan tersebut digambarkan sebagai Rounded Rectangle: pberikut.
 








b.      Analisis
Setiap bahasa memiliki tingkat keterhubungan medan makna yang tercermin pada setiap lambang yang digunakan. Seperti pada kata emosi yang memiliki 7 medan makna yaitu senang, sedih, marah, bosan, benci, takut, dan malu. Kata – kata tersebut menjadi anggota kata dari kata emosi yang memiliki makna yang berbeda. Kata emosi masih memiliki hubungan kata dengan kata - kata tersebut. Oleh karena itu, kata emosi menjadi kata umum yang dapat dihubungkan dengan bentuk bentuk emosi atau luapan perasaan yaitu senang, sedih, marah, bosan, benci, takut dan malu. Maka, dapat dikatakan bahwa kata – kata tersebut memiliki jarring – jaring atau medan makna yang sama. Medan makna tersebut dapa dilihat dari lambang – lambang yang digunakan. Dengan demikian, kata emosi memilik keanggotaan lambang yang banyak untuk medan makna tertentu.
sedih
 
Marah  
 
Senang
 
malu
 
 










Diagram diatas menunjukan bahwa terdapat relasi semantic horizontal.
Dari kata emosi dapat dibagi menjadi tujuh medan makna yaitu senang, sedih, marah, bosan, benci, takut, dan malu. Akan tetapi dari beberapa medan makna yang terbentuk dari kata emosi, ada dua kata yang tidak memiliki kelompok medan makna yaitu kata berani dan penasaran. Kata tersebut juga golong dalam ranah emosi. Pada bahasan ini, kata – kata yang dihasilkan dari ranah emosi atau perasaan jiwa seseorang tergolong dalam kelompok kata ajekiva.  Deskripsi medan makna dapat saja berupa keberadaan medan makna itu sendiri, baik medan makna yang berdiri secara terpisah dari medan makna yang lain seperti kata berani dan penasaran maupun medan makna yang terikat dalam hubunganya dengan jaringan medan makna yang lebih luas, seperti kata senang, sedih, marah, bosan, benci, takut, dan malu.
Jaringan keterkaitan makna satu dengan yang lainnya dapat menghasilkan superordinate dan hiponim. Seperti pada beberapa medan makna yang ada pada ranah kata emosi yang ditunjukan dnegan table dibawah ini ;
Tabel 1.  Jaring  - Jaring Makna
No
Komponen umum
Jaring – jaring makna
1.
Senang
Asyik


Bahagia


Bangga


Berahi


Cinta


Gembira


Gemas


Kagum


Lega


Nikmat


Puas


Plong


Rida


Sayang


Senang


Suka


Takjub


Tenang
2.
Marah
Berang


Geram


Kesal


Kalap


Kecewa


Muak


Panic


Sebel
3.
Bosan
Bosan


Galau


Gamang


Jemu


Jenuh
4.
Sedih
Cemas


Benci


Gundah


Iba


Kalut


Kangen


Merana


Pilu


Prihatin


Terenyuh
5.
Benci
Cemburu


Curiga


Benci


Sentiment


Dengki


Dongkol


Sirik
6.
Takut
Bimbang


Gentar


Gelisah


Khawatir


Was - was


Risau


Grogi


Ngeri


Panic


Segan


Tegang
7.
Malu
Gondok


Sungkan

Dari table 1.1. di dapatkan bahwa komponen umum kata senang memiliki 18 jaring – jaring makna yang terdiri dari kata bahagia, asik, bangga, berahi, cinta, gembira, gemas, kagum, lega, nikmat, puas, plong, rida, sayang, senang, suka, takjub, tenang. Pada table 1.2. komponen umum dari kata marah memiliki 8 jaring – jaring makna yaitu berang, geram, kesal, kalap, kecewa, muak, panic, sebel. Sedangkan pada table 1.3.  Dari kompoen umum kata bosa di dapat 4 jaring –jaring makna yaitu kata galau, gamang, jemu dan jenuh. Pada table 1.4. di dapat bahwa kata umum sedih memiliki 10 jaring – jaring makna yaitu kata cemas, benci, gundah, iba, kalut, kangen, merana, pilu, prihatin, terenyuh. Pada table 1.5 di dapat komponen kata benci yang terdiri dari 7 jaring - jaring makna yaitu cemburu, curiga, benci, sentiment, dongkol, sirik, dengki.
Dari table 1.6 komponen umum pada kata takut memiliki 11 jaring – jaraing makna, yaitu bimbang, gentar, gelisah, khawatir, was – was, risau, grogi, ngeri, panic, segan, dan tegang. Sedangkan pada table 1.7 komponen umum dari kata malu hanya memiliki 2 jaring – jaring makna yaitu gundah dan sungkan. Kata – kata yang telah dihasilkan oleh jaring – jaring makna dapat dikembalikan lagi ke kata umum yaitu emosi. Oleh karena itu kata – kata tersebut memiliki medan makna yang sama. Hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwa semua yang dapat dirasakan oleh indera manusia dapat dikelompokan menjadi jaring - jaring makan atau medan makna tertentu. Medan makna dapat tercermin dalam kata atau lambang yang digunakan. Dengan demikian, ada bahasa yang memiliki keanggotaan lambang yang banyak untuk medan makna tertentu (Suwaji, dkk 1975, Pateda 2001: 256)
Table 2. Komponen Makna
No
Ciri
Senang
Sedih
Marah
Bosan
Benci
Takut
Malu
1.
Perasaan batin yang keras
+
+
+
+
+
+
+
2.
Merasa suka
+
-
-
-
-
-
-
3.
Merasa tidak suka
-
-
-
+
+
-
-
4.
Susah hati
-
+
-
-
-
-
-
5.
Merasa senang
+
-
-
-
-
-
-
6.
Merasa tidak senang
-
-
+
-
-
-
+
7.
Dalam keadaan baik
+
-
-
-
-
-
-
8.
Merasa gusar
-
-
+
+
-
+
-
9.
Jemu
-
-
-
+
-
-
-
10.
Merasa tidak berani
-
-
-
-
-
+
-

Pada table diatas menunjukan bahwa beberapa medan makna yang telingkup pada kata emosi memiliki beberapa komponen makna yang dapat dibedakan dengan ciri – ciri tertentu seperti perasaan batin yang keras, merasa suka atau tidak suka, merasa senang atau tidak senang, susah hati, dalam keadaan yang baik, merasa gusar, jemu dan merasa tidak berani. Beberapa ciri tersebut dapat mewakili komponen makna pada tiap – tiap medan makna dari kata umum emosi.
Pada ciri – ciri komponen makna diatas ciri yang mengemukakan perasaan batin yang keras dapat mewakili seluruh medan makna pada kata emosi yaitu sedih, senang, takut, bosan, marah, malu, dan benci. Berdasarkan data diatas kata senang memiliki komponen makna yaitu dalam perasaan suka, merasa senang dan dalam keadaan baik. Komponen makna yang membangun kata sedih adalah perasaan batin yang keras dan susah hati. Sedangkan komponen makna pada kata marah yaitu perasaan tidak senang dan merasa gusar. Pada komponen makna yang melingkupi kata bosan yaitu terdiri dari perasaan tidak suka, jemu dan merasa tidak suka. Komponen makna yang membangun kata benci yaitu merasa tidak suka, sedangkan kompone makna pada kata takut yaitu merasa gusar dan merasa tidak berani. Hal ini berbeda dengan komponen kata yang ada pada kata malu yaitu merasa tidak berani. Dari analisis komponen makna tersebut didapat bahwa setiap kata dalam medan makna memiliki komponen makna yang hampir sama, tetapi dapat dibedakan dengan komponen diagnostik yang terdapat pada kata tersebut.


III.             KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas didapat bahwa ada 62 kata yang membentuk kata emosi. Hal ini dapat dianalisis melalui analisis konteks verbal, aspek semantis dan dimensi semantis. Ke- 62 kata itu adalah (asyik, antusias, bahagia, bangga, benci, berahi, berang, bimbang, bosan, cemas, cinta, curiga, cemburu, dengki, dongkol, galau, gamang, gelisah, gembira,gemas, gentar, geram, girang, gondok, grogi, gundah, geram, heran, iba,iklas, iri, jemu, jengkel, jenuh, kaget, kagum, kalap, kalut, kangen, kecewa, keki, kesal, khawatir, lega,malu, marah,masgul, merana, muak, ngebet, ngeri, nikmat, panik, pilu, plong, prihatin, puas, ragu,resah, rida, rindu, risau, risi, sangsi, sayang, sebel, sedih, segan, senang, sentiment, sirik, suka, sungkan, takjub, takut, tegang,tenang, terenyuh, was-was).
Dari kata emosi tersebut, terbentuk 7 medan makna kata emosi, yaitu medan makna senang, sedih, marah, bosan, benci, takut dan malu. Melalui analisis komponen makna terlihat bahwa setiap kata dalam medan makna memiliki komponen makna yang hampir sama, tetapi dapat dibedakan dengan komponen diagnostik yang terdapat pada kata tersebut.
IV.             DAFTAR PUSTAKA
Beekman, John. And John Callow. 1974 Translating The Words of God. Michigan:
Zondervan Publising House, Third Printing, 1976
            Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rieneka Cipta
            Cruse, D. A. 1986. Lexical Semantics. Cambridge and New York: Cambridge
University Press.
            Crystal, David.1985. A Dictionary of Linguistics and Phonetics. New York: Basil
Blackwell Ltd
            Leech, Geoffrey. 1974. Semantics: The Study of Meaning. Harmondsworth,
Middlesex: Penguin Books Ltd. Second Edition, revised dan updated 1981.
Lyons, John. 1977. Semantics I. Cambridge: Cambridge University Press. Third
Printing 1981
Nida, Eugene A. 1975. Componential Analysis of Meaning: an Introduction to
Semantic Structure. Paris: Mounton
            Pateda, Mansoer. 1986. Semantik Leksikal.  Ende: Nusa Indah
            Robin, R.H. 1992. Linguistik Umum Sebuah Pengantar (penerjemah: Soenarjati
Djajanegara), Yogyakarta: Kanisius
            Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Yogyakarta: Duta
Wacana Unversity Press
            Verhaar, J.W.M. 1999, Asas – asas Linguistik Umum, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
            Wedhawati. 1997 “Konfigurasi Medan Leksikal (+SUARA +INSAN) dalam Bahasa
Indonesia. Disertasi”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
            Wijana, I Dewa Putu. 1999. Semantik Sebagai Dasar Fundamental Pengkajian
Bahasa, Makalah dalam Seminar Nasional Semantik I. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
            Zgusta, Ladislav et al. 1971. Manual of Lexicography. The Hague: Mounton